Kamis, 05 April 2018

Sempat Viral Mengajar Microsoft Word di Papan Tulis, Sekarang Dapat Bantuan

Sempat Viral Mengajar Microsoft Word di Papan Tulis, Sekarang Dapat Bantuan

Beberapa waktu lalu, foto seorang guru TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) asal Ghana yang mengajar menggunakan media papan tulis, viral di media sosial.

Guru bernama, Richard Appiah Akoto yang mengajar di SMP Betenase di Sekyedomase, menggambar tampilan Microsoft Word dengan kapur warna-warni di papan tulis hitam di depan sekitar 100 muridnya.

Sekolah tersebut memang belum memiliki komputer sejak 2011. Namun saat ini, murid-muridnya bisa melihat secara langsung bagaimana tampilan asli Microsoft Word dan bagaimana cara pengoperasiannya secara langsung.

Beberapa donatur memberikan komputer desktop dan laptop untuk sekolah Akoto. Salah satunya adalah Amirah Alhartini, seorang mahasiswa PhD Universitas Leeds, Inggris yang berasal dari Arab Saudi.

"Saya selalu memahami pelajaran dari Islam, bahwa ilmu yang bermanfaat adalah krusial untuk kepentingan diri dan kemanusiaan", jelas Amirah, Senin (19/3/2018).

Murid-murid Akoto berpose dengan komputer bantuan yang diterima.Facebook.com/Akoto Murid-murid Akoto berpose dengan komputer bantuan yang diterima.

"Saya juga berpikir betapa banyak orang-orang jenius yang hilang karena orang-orang tersebut tidak memiliki kesempatan yang sama untuk bersaing dengan yang lain, dan itu membuat saya sangat sedih", tambah Amirah.

Pusat pelatihan komputer, NIIT Ghana yang berbasis di Accra juga menyumbang lima unit komputer desktop dan tiga kotak buku TIK, serta sebuah laptop pribadi untuk Akoto.

Manajer NIIT, Ashish Kumar, mengungkapkan simpatinya setelah melihat foto-foto Akoto menggambar di papan tulis, beredar di jejaring sosial dan juga media masa.

"Kami mencetak berita itu (foto Akoto), menempelkannya di papan pengumuman dan membaginya dengan CEO kami, Kapil Gupta", ujar Kumar.

Kepala bisnis NIIT, Yaw Amoateng dan senior manajer Sanjeev Mishra, mengunjungi Sekyedumase untuk memberikan perlengkapan kelas.

Selalu menggambar di papan tulis

Agar materi yang disampaikan dapat dipahami muridnya, Akoto menyalin tampilan antarmuka Microsoft Word, persis sepeti yang ada di monitor.

"Saya selalu melakukan ini di setiap pelajaran yang saya ajarkan. Saya menggambar monitor, sistem unit, keyboards, mouse, formatting toolbar, drawing toolbar, save as dialog box dan lainnya", jelas Akoto.

Ia pun membagikan beberapa aktivitas mengajarnya melalui akun Facebooknya, Owura Kwadwo Hottish, dan menjadi perbincangan dunia maya di seluruh dunia.



Di tengah keterbatasan, dirinya tetap gigih untuk memberikan ilmu, demi mempersiapkan ujian nasional, termasuk TIK yang akan dihadapi siswanya. Di Ghana, ujian tertulis harus dilalui murid berusia 14-15 tahun untuk naik ke tingkat SMA. Hasilnya, murid-murid Akoto berhasil meraih nilai A tahun lalu.

Mendapat pelatihan dari Microsoft

Salah satu dari ribuan netizen yang membagikan kisah inspiratif Akoto, adalah seorang enterpreneur yang juga pemerhati teknologi di Afrika, Rebecca Enonchong. Tak tanggung-tanggung, ia menyebut akun Twitter Microsoft Afrika ketika me-retweet foto Akoto.

Ia berharap Microsoft dapat memenuhi sumber daya yang tepat bagi sekolah Akoto. Tampaknya, gayung bersambut. Microsoft membalas re-tweet Enonchong dan menjanjikan akan memberikan peralatan serta pelatihan profesional untuk Akoto.

Hey @MicrosoftAfrica, he’s teaching MS Word on a blackboard. Surely you can get him some proper resources. https://t.co/u8N3eXguXS

— Rebecca Enonchong (@africatechie) 25 Februari 2018

Sesuai janjinya, Microsoft menerbangkan Akoto ke Singapura untuk menghadiri pertemuan tahunan Microsoft Educators Exchange.

Microsoft menjanjikan pula, akan membekali Akoto dengan perangkat dari mitra bisnis mereka dan juga akses ke sertifikasi untuk pengembangan profesional, Microsoft Certified Educator Program (MCE).

50 Juta Data Pegguna Facebook Kabarnya Dicuri

50 Juta Data Pegguna Facebook Kabarnya di Curi

Sebanyak 50 juta data personal pengguna Facebook dicuri dan disimpan firma analisis data, Cambridge Analytica. Firma tersebut bekerja untuk kampanye pemenangan Donald Trump pada Pilpres 2016 lalu.

Bukan cuma Cambridge Analytica, data pengguna Facebook juga ada dalam arsip Strategic Communications Laboratories (SCL). Keduanya adalah perusahaan yang berafiliasi.

Cambridge Analytica dan SCL diduga memperoleh data pengguna Facebook dari peneliti pihak ketiga bernama Aleksandr Kogan. Ia bekerja di Global Scicence Research dan kerap menghadirkan survei terkait kepribadian yang tersebar masif di Facebook.

Kogan telah menghimpun respons pengguna atas survei dan kuis Facebook sejak 2015, melalui aplikasi buatannya bernama “thisisyourdigitallife”. Aplikasi itu memang cuma diunduh 270.000 pengguna Facebook. Akan tetapi, efeknya mengena ke 50 juta pengguna, karena aplikasi mampu mengakses data-data teman dari sang pengunduh.

Siapa saja yang mengunduh aplikasi itu secara tak sadar dan sukarela menyerahkan data personal mereka, apa yang mereka suka, di mana mereka tinggal, serta siapa saja teman mereka.

Facebook telah menangguhkan Cambridge Analytica, SCL, Kogan, serta Christopher Wylie. Wylie adalah pembisik alias whistleblower yang mengungkap kebocoran dan penyalahgunaan data 50 juta pengguna Facebook ke media massa.

“Kami terus menyelidiki untuk melihat tingkat akurasi dari klaim-klaim ini. Jika benar, ini adalah kejahatan yang tak termaafkan,” kata Vice President dan General Counsel Facebook, Paul Grewal.

Sementara itu, juru bicara SCL membantah tuduhan yang ditujukan ke pihaknya dan Cambridge Analytica. Akan tetapi, tak ada penjelasan lebih rinci soal bantahan itu.

“Cambridge Analytica dan SCL tak memegang data Facebook,” ujarnya, Senin (19/3/2018), dari Wired.

Sumber dalam mengatakan, data personal pengguna Facebook masih bisa diakses di database internal Cambridge Analytical pada 2017 lalu. Padahal, SCL telah berjanji ke Facebook dan pegawai Cambridge bahwa semua data itu telah dihapus pada 2015 lalu.

Kumpulan data pengguna yang penting, kata sumber dalam, dimasukkan ke database bertajuk “Kogan-import”. Yang bisa mengaksesnya hanya sebagian kecil pegawai Cambridge Analytical dan SCL, yakni bagian data science, engineering, dan IT.

Dari 50 juta data pengguna Facebook yang berceceran di tangan pihak ketiga, 30 di antaranya sudah lengkap untuk profiling seseorang. Jika sudah begitu, privasi pengguna tak lagi menjadi privasi.