Senin, 26 Maret 2018

Bagaimana Memastikan Suatu Jenis Hewan Terancam Punah

Bagaimana Memastikan Suatu Jenis Hewan Terancam Punah

Kematian Sudan, badak putih jantan terakhir di dunia membuat spesiesnya punah.

Kini hanya ada dua badak putih di dunia yang berjenis kelamin betina. Namanya Najin dan Fafu.

Para ahli berkata satu-satunya cara yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan spesies ini adalah dengan proses bayi tabung.

"Ini adalah situasi yang sangat buruk," kata Colin Butfield, kepala kampanye konservasi WWF, dilansir BBC, Rabu (21/3/2018).

Setelah Sudan, sebetulnya banyak hewan lain yang juga terancam punah.

Beberapa di antaranya seperti ikan lumba-lumba Vaquita, spesies ikan sangat langka yang ditemukan pada 1958.

Ada juga spesies badak Jawa, badak Sumatera, badak hitam, macan tutul amur, gajah hutan, dan orangutan Kalimantan. Populasi mereka kini kurang dari 100 ekor.

Persatuan Internasional untuk Pelestarian Alam (IUCN) memiliki daftar merah status kepunahan berbagai spesies tumbuhan, mamalia, burung, amfibi, dan hewan laut, yang dikelompokkan ke dalam tujuh kategori secara global.

Tujuh daftar merah kepunahan itu meliputi: berisiko rendah (least concern), hampir terancam (near threatened), rentan (vulnerable), genting (endangered), kritis atau terancam punah (critically endangered), punah di alam liar(extinxt in the Wild), hingga punah (extinct).

Saat ini, ada 5.583 spesies yang terancam punah. Data tahun 2017 menambahkan 26 spesies berstatus terancam punah.

November 2016, IUCN memperkirakan hanya ada 30 lumba-luma vaquita yang tersisa. Kemungkinan besar mereka akan punah dalam satu dekade ke depan.

Cara penghitungan populasi

Memang, angka yang dimiliki IUCN tidak selalu tepat. Namun, pihaknya mengklaim telah menggunakan berbeagai metode untuk menghasilkan perkiraan terbaik.

Saat menghitung mamalia darat misalnya, para ahli konservasi akan mengkombinasikan beberapa metode. Antara lain pelacak GPS, kamera tersembunyi untuk mengidentifikasi tanda khas hewan, jejak perburuan, kotoran, jejak kaki hewan, dan bekas goresan di pohon.

Mereka kemudian menggunakan informasi tersebut untuk memperkirakan hal-hal seperti jumlah hewan dan berapa banyak spesies yang ada di suatu daerah.

Spesies baru ditemukan setiap tahun

Butfield berkata temuan spesies baru tidak akan menambah stok makhluk hidup di dunia. Sebab, matinya satwa liar terjadi dengan sangat cepat.

Bahkan, peneliti percaya beberapa spesies akan punah sebelum kita tahu bahwa spesies itu ada.

Diwartakan BBC, saat para ahli memberikan status terancam punah pada spesies tertentu, ini bukan hanya soal angka.

Dalam beberapa kasus, spesies dengan jumlah populasi tinggal 500 ekor disebut lebih terancam punah dibanding spesies yang populasinya 300 ekor.

Hal seperti ini bisa terjadi bila spesies tersebut memiliki siklus reproduksi panjang, yang artinya tidak dapat cepat tumbuh dan berkembang biak.

Spesies yang habitatnya di hutan hujan tropis juga tidak bisa hidup di jenis habitat lain.

Artinya, jika sesuatu terjadi pada sistem sungai utama maka seluruh spesies yang ada di sana bisa musnah. Terlepas dari seberapa besar populasi lokalnya. Hal ini dapat berdampak pada spesies lain dalam sistem yang sama.

Senin, 12 Maret 2018

Puasa Senin Kamis Bantu Turunkan Berat Badan

Puasa Senin Kamis Bantu Turunkan Berat Badan

Puasa sudah dikenal dalam berbagai kebudayaan dan agama. Karena itulah, banyak peneliti kemudian tertarik untuk membuktikan manfaat dari puasa tersebut.

Bahkan, puasa juga disebut sebagai cara terbaik untuk menurunkan berat badan. Pada 2017, puasa terputus-putus (ada pembagian hari untuk pasa dan tidak) juga menjadi tren untuk diet.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh University of Surrey, Inggris menunjukkan bahwa puasa jenis ini memiliki banyak manfaat kesehatan selain menurunkan berat badan.

Untuk mendapat temuan tersebut, para peneliti merekrut 27 peserta yang mengalami obesitas. Para peserta dibagi menjadi dua kelompok dengan target menurunkan berat badan 5 persen.

kelompok pertama diminta melakukan diet 5:2 atau mirip dengan puasa Senin dan Kamis. Sedangkan kelompok kedua diminta melakukan diet pembatasa kalori (dalam sehari hanya boleh mengonsumsi 600 kalori).

Pada puasa tersebut, para peserta mengikuti makan normal selama 5 hari dan membatasi kalori mereka pada 2 hari "puasa", yaitu sekitar 600 kalori. Pada 5 hari tanpa puasa, peserta mengonsumsi sekitar 1.400 hingga 1.900 kalori.

Tidak semua peserta mampu menyelesaikan diet tersebut.

Namun, hasilnya menunjukkan kelompok pertama mampu menurunkan 5 persen berat badan dalam 59 hari. Sedangkan kelompok kedua mampu menurunkan berat dan setelah 73 hari.

Para peneliti juga melihat efek puasa tersebut pada kemampuan metabolisme lemak dan glukosa setelah makan.

Mereka menemukan, pada kelompok pertama terlihat pembersihan lemak (trigliserida) dalam darah. Meski begitu, dalam metabolisme glukosa pada kelompok pertama membuat para peneliti terkejut.

"(Kami) terkejut menemukan variasi antara kedua diet tersebut dalam C-Peptida (penanda sekresi insulin dari pankreas) setelah makan, yang mungkin akan membutuhkan penyelidikan lebih lanjut," ungkap para peneliti dikutip dari Business Insider, Senin (!9/03/2018).

Para peneliti juga menemukan bahwa tekanan darah sistolik (tekanan darah atas) berkurang sebesar 9 persen dengan pola makan 5:2.

"Penurunan tekanan darah sistolik mengrurangi tekanan pada arteri, berpotensi mengurangi kejadian serangan jantung dan stroke," kata pihak Universitas.

"Seperti yang terlihat dalam penelitian ini, beberapa peserta berjuang mentolerir diet 5:2, yang menunjukkan pendekatan ini tidak sesuai bagi semua orang," ungkap Rona Antoni, Peneliti metabolisme nutrisi yang terlibat penelitian ini.

Antoni juga menegaskan bahwa kunci keberhasilan diet seseorang adalah menemukan pendekatan paling tepat untuk jangka panjang.

"Tetapi bagi mereka yang melakukannya dengan baik dan dapat bertahan pada diet 5:2, hal itu berpotensi menimbulkan dampak yang menguntungkan pada penanda risiko penyakit kardiovaskular yang penting," ujarnya.

"Namun, kita memerlukan studi lebih lanjut untuk mengonfirmasi temuan kami, untuk memahami mekanisme yang mendasari dan meningkatkan toleransi diet 5:2," tambahnya.