Senin, 22 Januari 2018

Mengapa Masih ada Bom Bunuh Diri Jelas Sains

Mengapa Masih ada Bom Bunuh Diri Jelas Sains

Mengapa seseorang rela berkorban nyawa demi kelompok atau ideologi mereka? Apa yang mendorong mereka melakukan hal tersebut?

Banyak orang berpendapat bahwa individu-individu ini melakukan tindakan ekstrem tersebut demi predikat sebagai pahlawan atau teroris. Namun di balik semua itu, ada proses psikologi yang disebut penyatuan jati diri dengan kelompok.

Harvey Whitehouse, peneliti dari Universitas Oxford, menjelaskan bahwa penyatuan jati diri berperan besar dalam mendorong seseorang untuk rela mati demi kelompok dan keyakinan agama mereka.

Perasaan itu muncul karena adanya pengalaman berbagi dalam setiap peristiwa dengan melibatkan emosi secara mendalam dan membentuk keinginan untuk hidup dan mati bersama, kata Bill Swann, psikolog sosial dari Universitas Texas yang pertama kali mencetuskan teori ini.

Penjelasan tersebut berbeda dengan teori-teori sebelumnya yang menjelaskan bahwa motivasi seseorang berperilaku ekstrem adalah identitas kolektif, permusuhan dengan lawan, kedekatan psikologis dengan kerabat, dan pengaruh gangguan mental.

Whitehouse dan timnya dari Centre for Anthropology and Mind melakukan penelitian terhadap sejumlah kelompok militan, seperti kelompok fundamentalis Islam, dan kelompok garis keras lainnya, seperti suporter bola, klub bela diri, milisi suku, dan kelompok sipil bersenjata.

Mereka melakukan pengamatan langsung di lapangan, survei, dan wawancara dengan kelompok yang sejumlah anggotanya tewas saat bertempur demi kepentingan kelompok, seperti kelompok sipil bersenjata di Libya dan tentara yang bertugas di Afghanistan dan Irak.

Studi mengungkapkan, persamaan pandangan bahwa setiap anggota kelompok adalah saudara sehidup semati yang harus berbagi kebersamaan dalam setiap peristiwa memunculkan keinginan melindungi satu sama lain yang dapat mendorong pengorbanan diri.

Untuk itu, Whitehouse berkata bahwa memahami munculnya rasa persaudaraan di dalam kelompok ekstrem terlihat lebih masuk akal daripada menyalahkan pemahaman ekstrem sebuah agama dalam usaha untuk menciptakan respons antiterorisme yang lebih efektif. 

Kekerasan dan pemaksaan juga tidak akan menyelesaikan masalah terorisme, tetapi justru bisa menjadi bumerang.

Menurut Whitehouse, cara efektif yang bisa dilakukan adalah mengetahui apa atau siapa yang mereka perjuangkan, serta mengapa mereka melakukannya.

Setelah itu, deradikalisasi akan berhasil apabila mampu menghilangkan perasaan bersaudara di dalam kelompok militan, dan hal itu akan sangat membantu dalam proses pendampingan.

Peran orangtua dan keluarga, serta lingkungan lain seperti sekolah, pekerjaan, dan pemimpin agama, akan membantu mereka bangkit dengan motivasi hidup baru.

"Hanya dengan memahami munculnya komitmen dalam kelompok, kita bisa mendapatkan kepercayaan dan kerja sama, sekaligus membatasi kemungkinan untuk munculnya konflik antar kelompok," kata Whitehouse, dikutip dari Sciencedaily, Senin (5/3/2018).

Senin, 08 Januari 2018

Penelitian Terbaru Otak Manusia Berkembang Karena Memasak

Penelitian Terbaru Otak Manusia Berkembang Karena Memasak

Terbaru Otak Manusai Berkembang Karena Memasak Tak diragukan lagi, kini memasak telah menjadi bagian dari aktivitas manusia sehari-hari. Namun, siapa sangka bahwa memasak ternyata memiliki peran yang signifikan dalam evolusi manusia.

Seorang antropolog dari Universitas Harvard, Richard Wrangham, mengungkapkan hubungan erat antara kedua hal tersebut. Dia punya hipotesis jika kebiasaan memasak memungkinkan nenek moyang kita mengembangkan ukuran otak yang lebih besar hingga 50 persen dari pendahulunya, Homo habilis.

Hal inilah yang kemudian menjadi alasan utama munculnya manusia modern.

Saat makanan belum dimasak, nenek moyang manusia membutuhkan waktu relatif lama hanya untuk mengunyah dan mencerna makanan mereka. Dengan memasak, proses makan bisa dipangkas menjadi lebih singkat.

" Memasak makanan berarti mengurangi waktu makan, membebaskan manusia untuk berburu, waktu penyapihan lebih rendah, menciptakan keluarga yang lebih besar, memungkinkan pembagian kerja secara seksual dan bahkan memungkinkan membuat ukuran otak meningkat," kata Wrangham.

Namun, hipotesis Wrangham ini bisa dibilang cukup lemah. Sebab, tak banyak bukti arkeologis yang bisa dijadikan acuan sejak kapan dan di mana nenek moyang manusia memulai kebiasaan memasak.

Untung saja teori Wrangham ini tak lama kemudian mendapat dukungan.

Tim ilmuwan yang dipimpin oleh Francesco Berna dari Universitas Boston telah menemukan bukti kuat sisa-sisa perapian yang digunakan oleh nenek moyang kita sekitar satu juta tahun lalu sebagai tungku masak.

Berna pun sempat mengungkapkan jika temuan ini dapat mendukung hipotesis Wrangham yang menyebut bahwa manusia sudah bisa memasak sebelum otak mereka membesar sekitar 1,8 juta tahun yang lalu.

Penelitian yang diterbitkan di Proceedings of the National Academy of Sciences ini menyebutkan bahwa para ilmuwan menemukan bukti adanya tulang belulang dan abu dari tanaman dalam perapian.

Bukti tersebut mereka dapatkan di dalam Gua Wonderwerk sepanjang 140 meter di Provinsi Tanjung Utara Afrika Selatan.

Para ilmuwan menemukan material-material tersebut sudah hangus sekitar 30 meter dari pintu masuk gua. Mereka pun berpendapat bahwa sisa material tersebut tidak mungkin terbakar secara alami melainkan memang secara sengaja dibakar.

"Lokasi itu 30 meter di dalam gua, tidak ada pohon yang tumbuh di sana. Jadi tidak mungkin ada vegetasi kayu atau bahan seperti kayu yang akan terbakar di titik tersebut secara alami," kata Paul Goldberg, peneliti lain dari Universitas Boston.

"Sisa-sisa abu juga tidak mungkin terbawa oleh angin atau air karena sangat halus. Jadi saya berpikir itu berasal dari proses pembakaran yang disengaja," tambahnya.

Selain itu, para peneliti juga menemukan periuk bertutup yang terbuat dari batu besi, batu yang terdapat di lapisan atas gua batu kapur.

Pada akhirnya, temuan ini dapat memberikan perspektif baru bahwa kebiasaan yang sudah kita lakukan sehari-haripun merupakan sebuah proses evolusi manusia yang panjang. Sebuah evolusi yang mengungkap perkembangan genus Homo menuju manusia modern.